GOA KREO
Kamis, 16 Oktober 2014
Setelah selesai bersenang-senang di Kawasan Wisata Tirta Argo Siwarak, kami melanjutkan perjalanan menuju Kawasan Wisata Gua Kreo. Dalam perjalanan banyak sekali melewati daerah-daerah berbukit yang banyak sekali pemandangan alam yang indah dan terdapat pula daerah-daerah persawahan yang berderet-deret penataannya menggunakan metode terasering karena mengikuti alur yang berbukit sehingga metode ini sangat baik di daerah tersebut.
Setelah sampai di Kawasan Wisata Gua Kreo, di area parkiran kami disambut serombongan monyet-monyet yang lucu-lucu. mereka berlarian dan melompat kesana kemari. Ada monyet yang besar, ada yang kecil, dan ada yang sedang menggendong anaknya. Mereka lincah dan gesit meminta makanan dari pengunjung yang datang ke sana. kami sangat senang memberi mereka makanan berupa kacang dan minuman.
Di Kawasan Gua Kreo sekarang telah dibuat sebuah waduk dengan nama Waduk Jatibarang. Waduk ini dibuat untuk mengendalikan aliran air dan mengantisipasi bencana banjir yang selalu melanda Kota Semarang. Waduk ini juga sangat bermanfaat karena dengan adanya waduk ini bisa menjadi salah satu pemasok aliran listrik karena adanya PLTA dengan memanfaatkan waduk ini.
Menurut cerita warga sekitar, bermula ketika Sunan Kalijaga mencari kayu untuk membuat tiang penyangga (soko) Masjid Agung Demak. Setelah melakukan perjalanan jauh akhirnya beliau bisa mendapatkan kayu jati tersebut dan dikirim melalui jalur sungai. Sampai di daerah Kreo kayu tersebut tersangkut. Sunan Kalijaga memerintahkan untuk memotong kayu tersebut.
Sambil menunggu pemotongan kayu Sunan Kalijaga beristirahat dan memerintahkan untuk membuat gua. Setelah dirasa cukup beristirahat, Beliau memerintahkan untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi ada 4 ekor monyet yang ingin ikut mengiring dan membantu (Ngreo) Sunan Kalijaga hingga sampai Demak tetapi tidak diijinkan dan mereka disuruh untuk menjaga daerah itu. Dari kata mengiring dan membantu dalam bahasa jawa "Ngreo" maka daerah tersebut diberi nama "Kreo". Demikian sekelumit cerita dari penduduk sekitar yang diceritakan pada kami.
Di kawasan tersebut terdapat Gua yang gelap tidak ada lampu atau obor. Di dalam goa tersebut terdapat patung Monyet (Hanoman). Diatas gua terdapat banyak sekali pohon beringin. Monyet-monyet yang ada disana sekarang terbagi menjadi 3 kolompok yaitu di parkiran, disekitar gua, dan di seberang waduk. Dan anehnya bila mereka bertemu satu sama lain pasti terjadi pertarungan. dan yang pasti apabila ada monyet yang mati secara wajar, penduduk sekitar tidak pernah menemukan bangkai ataupun sisa-sisa monyet tersebut kecuali yang tersetrum listrik ataupun dibunuh manusia.
Disebelahya terdapat gua yang diberi nama Gua Landak di dalam gua terdapat patung singa. Konon Gua Landak yang membuat adalah landak-landak di sekitar daerah tersebut. Tapi karena daerah tersebut telah banyak penduduk dan populasi landak terganggu dan berkurang maka Gua Landak ditinggalkan. Oleh karena itu kita sebagai calon penerus bangsa alangkah baiknya saling menjaga kelestarian alam maupun hewan-hewan agar tidak mengalami kepunahan.
Kami sangat senang sekali dan pengalaman ini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan bersama teman-teman SDN Mranggen 3. Terima Kasih pula kami ucapkan kepada bapak dan ibu guru yang telah memberikan pengalaman berharga di Kawasan Wisata Gua Kreo kepada kami.
Oleh:
MELIA RAHMAWATI
Kelas : V (Lima)
No. Urut : 15
NIS : 20288
NISN : 0046374504




Comments
Post a Comment